
diare..mencret..
Sholihudin Hamdani menikmati pagi itu dengan duduk-duduk di bangku kayu panjang yang ada di luar kamar dengan rasa tak nikmat. Kaus kutang warna putih yang dipadu celana pendek warna ungu bermotif warna putih jadi padanan badannya.
Tangan kirinya dibebat. Ada jarum infus dan selang yang mengalirkan cairan ringer laktat yang dipakai sebagai resusitasi elektrolit tubuh dari dalam botol plastik berkapasitas 500 cc di antara salah satu sela menganga bebatnya.
Hari itu sudah tiga hari Sholihudin menjalani perawatan inap di Puskesmas Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Sholihudin terserang diare.
Mencret-mencret tak karuan.
Tak banyak yang bisa diperbuat Sholihudin dengan kondisi begitu. Paling-paling hanya sesekali melirik pada Ma’ratus Solikah (29) yang setia mendampinginya, sambil kadang-kadang menggelendot manja ke bahu perempuan itu.
Awalnya panas, kejang-kejang, dan diare, kata Ma’ratus soal kondisi Sholihudin.
Sholihudin bocah berusia 3,5 tahun. Ma’ratus adalah ibu Sholihudin.
Sudah enam botol cairan ringer laktat diinfus lewat jalur pembuluh darah vena (peripheral venous cannulation) milik Sholihudin sejak ia tiba di puskesmas yang punya fasilitas rawat inap itu. Pagi itu kondisi Sholihudin mulai membaik, karena ia sudah bisa mengaso di bangku kayu panjang ketimbang berdiam saja di atas dipan dalam kamar perawatan.
Sementara di dalam kamar perawatan ada empat bocah lain yang kondisinya masih lebih lemah dibandingkan Sholihudin. Salah satunya adalah Muizadin (14 bulan), yang histeris kalau melihat orang selain pasangan Mujahidin (32) dan Ani Sa’adah (28) yang adalah kedua orangtuanya.
Hari itu Muizadin sedang menghabiskan botol keduanya yang berisikan cairan ringer laktat.
Kata Mujahidin, anaknya itu mulai dengan gejala muntah yang dilanjutkan dengan diare. Muntaber, sebelum akhirnya dibawa ke puskesmas itu sejak dua hari sebelumnya buat dirawat.
Mujahidin yang jadi pejuang buat anaknya itu melanjutkan, dalam sepekan terakhir sudah ada tujuh orang yang diketahui disergap diare di desa tempatnya tinggal. Diam-diam menyergap dengan daya kejut luar biasa.
Mencret-mencret tak karuan.
Ada lagi bocah bernama Efilia (7 bulan) yang baru masuk dalam kamar perawatan pada hari itu. Ibunya, Siti Mahmudah (23) menunggui bayi mungil yang tengah diinfus itu sembari ditemani seorang perempuan tua.
Saya tak yakin siapa dan bagaimana hubungan kekerabatan perempuan tua itu dengan Efilia dan Siti Mahmudah. Tetapi, ia terus saja mengipasi Efilia di bagian kepala yang tampak sangat kepananasan dalam kamar perawatan.
“Batuk, pilek, diare,” sebut Siti Mahmudah soal urutan keluhan sakit anaknya.
Agak jauh dari ruang perawatan tadi, Jasman (84), pada saat yang nyaris bersamaan tengah berjibaku dengan “perang” nya sendiri di dalam bilik kamar mandi. Lelaki sepuh itu juga lagi dihajar diare dan sampai pingsan segala sebelum dilarikan ke puskesmas itu untuk beroleh perawatan medis.
Tak lama salah seorang dokter fungsional puskesmas itu membeberkan kumpulan datum. Pada data yang terbaca, hari itu ada lima pasien bocah dan seorang dewasa yang dirawat gara-gara deraan diare.
Mencret-mencret tak karuan.
Dokter itu kemudian memastikan ejaan dr. Ulfah Khannatul sebagai namanya yang betul. Ia lalu melanjutkan, pada Maret 2009, tercatat 54 orang dirawat akibat disergap diare.
Pada Januari dan Februari 2009, angka kasus diare masing-masing berkisar pada bilangan 50an kejadian. Jadi bisa disimpulkan, bahwa untuk serangan diare di wilayah kerja puskesmas itu saja dalam tiga bulan terakhir, sudah terjadi tidak kurang 150 kejadian perkara.
Kata Ulfah yang ramah, buruknya sanitasi lingkungan atau musim pancaroba yang bikin cuaca jadi makin aneh saja adalah beberapa penyebabnya. Selain itu, bakteri Escherichia coli yang biasanya bersemayam di makanan atau minuman dapat pula sebagai pencetusnya.
Lantas, karena lagi musim Pemilu yang potensial membuat orang yang linu menjadi tambah sendu gara-gara gelontoran janji-janji sebagian calon anggota legislatif atau caleg yang naga-naganya palsu, saya lalu tanya kepada Ulfah soal proses politik itu.
Maksudnya, ada tidak sih, satu saja caleg yang pernah sekali saja berkunjung atau berdiskusi padanya soal penyakit seperti serangan diare itu.
Ulfah mengkonfirmasi pertanyaan saya dengan dua kali kata “tidak” yang disertai sejumlah keterangan. Kata Ulfah, yang rupanya agak salah tangkap dengan pertanyaan saya dan mengira saya tengah menelisik kemungkinan orang-orang pemerintahan di puskesmas itu ikutan-ikutan berkampanye, mereka semua mengambil sikap netral dalam Pemilu ini.
Padahal saya hanya ingin tahu, ada ada tidak sih, satu saja calon anggota legislatif atau caleg yang pernah sekali saja berkunjung atau berdiskusi padanya soal penyakit seperti serangan diare itu. Ada ada tidak sih, satu saja calon anggota legislatif atau caleg yang betulan memahami soal-soal yang musti dicarikan solusinya di daerah pemilihan yang jadi tempatnya mendulang suara.
Pertanyaan yang kemudian dikonfirmasi dengan dua kali kata “tidak” sudah cukup bagi saya untuk setidaknya mengkhayalkan kenyataan lanjutan usai pesta demokrasi ini berjalan.
Tak lama, data tambahan soal penyakit saya peroleh lagi dari Kepala Bagian Pelayanan Medis dan Keperawatan RSD Jombang, dr Muhaeni Soewito. Katanya, yang relatif mencemaskan sekaligus (menurut saya) menggemaskan adalah juga serangan demam berdarah.
Dalam catatannya, setidaknya sudah tiga orang meregang nyawa dengan picu serangan demam berdarah dari sekitar 150 kasus dalam tiga bulan terakhir. Kata Muhaeni, pasien yang tewas datang sudah dalam kondisi teramat parah.
Kondisi yang mungkin terjadi karena ketidaktahuan pasien atau keluarga pasien mengenali gelaja serangan maut nyamuk Aedes Aegypti itu.
Kalau soal diare, kata Muhaeni, sekalipun ada kasus-kasusnya namun relatif tak banyak yang ditangani dan beroleh perawatan di rumah sakit itu. Tetapi saya tak sempat tanya padanya soal musim Pemilu yang potensial membuat orang yang linu menjadi tambah sendu gara-gara gelontoran janji-janji sebagian calon anggota legislatif atau caleg yang naga-naganya palsu.
Maksudnya, ada tidak sih, satu saja caleg yang pernah sekali saja berkunjung atau berdiskusi padanya soal penyakit seperti serangan diare atau demam berdarah itu. Ada ada tidak sih, satu saja calon anggota legislatif atau caleg yang betulan memahami soal-soal yang musti dicarikan solusinya di daerah pemilihan yang jadi tempatnya mendulang suara.
Satu hari sebelumnya, ada lagi fakta ironis yang bikin miris. Adalah antrean orang-orang di salah satu bagian Jalan Jayanegara, Kabupaten Mojokerto buat membeli minyak tanah.
Mereka menanti jatah buat membeli minyak tanah sejak waktu Subuh. Hingga menjelang petang, orang sama masih juga bertahan.
Sejumlah pengantre bilang pada saya, sudah sepekan terakhir minyak tanah sulit didapat. Zaenal, salah seorang pengantre yang masih a-be-ge menyebutkan, kondisi itu yang memaksanya mengantre sehubungan dengan kompor minyak tanah yang masih diandalkan keluarganya buat memasak.
Dari raut muka dan gaya bicaranya, karena saya tak sempat tanyakan umur pastinya, usia Zaenal sepertinya masih berada di kisaran permulaan 20an. Usia sangat produktif buat melakukan sejumlah pekerjaan yang menghasilkan serta membahagiakan kondisi keuangan.
Aneka pekerjaan mulai di ranah formal ataupun sektor informal. Menggerakan sektor finansial ataupun ekonomi kerakyatan.
Tetapi di siang yang nyaris terpeleset jadi sore itu, Zaenal malah terpaksa mengantre buat beroleh beberapa liter minyak tanah.
Tak jauh dari tempat Zaenal dan ratusan orang lain yang hari itu mengantre minyak tanah, sejumlah caleg dari berbagai partai politik menatap gagah. Tapi anehnya, mereka tak bisa ditanyai, diadui, dicurhati, ataupun dimintai solusi.
Lha ya jelas saja, sejumlah caleg dari berbagai partai politik yang menatap gagah tadi hanya diwakili foto atau gambarnya saja yang dicetak dalam berbagai alat peraga. Sudah begitu, sebagian dipasang seenaknya dengan cara dipaku pada pohon-pohon tua yang tak bisa memprotes perlakuan sembarangan barusan.
Akhirnya, mencret-mencret tak karuan.
http://ingkirinaldi.kompasiana.com/2009/04/05/adakah-caleg-yang-mencret/